A Good Reason for Living...

eddy's posts with tag: makam juang mandor

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag makam juang mandor
May It Be - Enya
Daku menyempatkan diri mengajak triplets mengunjungi makam lau kong ( great grandpa) mereka di Makam Juang Mandor, dimana engkong dibunuh oleh jepang dengan dipancung kepalanya.

Disini engkong daku terkubur bersama 21.037 orang dari berbagai suku dan ras, agama dibantai secara sadis oleh tentara pendudukan jepang pada tahun 1942-1945.

Daku sendiri nggak pernah tau engkong ada di lubang yang mana dari 10 lubang yang digali untuk mengekskusi para tahanan, dalam area yang luasnya kira kira 1 kilometer persegi.
 
Menurut babe daku, engkong daku Kang Cheng Cui saat ditangkap berumur 63 th bersama dengan ji pek alias paman ke 2 daku, Kang Sui Hai berumur 22 th saat ditangkap.
 
Saat itu di suatu pagi buta jam 3 an di tahun 1943, datanglah 3 roli tentara lengkap dengan senjata bayonet merangsek ke rumah keluarga besar Kang, babe dan om pertama tidur di toko, jadi terluput dari pengangkapan.
 
Konon mata mata jepang  memasukkan nama engkong daku, yang seorang intelektual dan politikus keturunan Cina dianggap berbahaya karena melawan pendudukan jepang di Kalbar.
Paman Kang Sui Hai yang seorang musisi dan pemain piano otodidak yang handal, ditangkap sekalian karena menghalangi pengangkapan babenya.
 
Satu satunya peninggalan dari engkong adalah sebuah ikat pinggang kulit berwarna hitam, yang dikembalikan oleh seseorang setelah engkong daku dibawa pergi oleh jepang, dan sejak itu tak pernah kembali lagi. Demikian juga paman kedua.
 
Penemuan 10 kuburan massal juga ditemukan secara tidak sengaja, saat itu setelah dilakukan pembantaian yang sadis itu, kuburan massal itu tidak ditutup dan dikubur secara layak alias dibiarkan mengangak sehingga anjing dan babi hutan sering membawa bongkahan daging manusia itu ke jalanan.
 
Setelah ditelusuri, ditemukanlah kuburan massal itu, dan hal ini dibawa ke PBB, kemudian oleh tentara pendudukan kembali NICA, kuburan itu ditutup dan terlupakan.
Sampai suatu saat pak Samad sang juru kunci makan sering mimpi dari roh korban pembantaian itu yang minta doi menguburkan dan menyembayangi mereka secara layak.
Maka kuburan digali ulang dan di hitung lagi, jumlah yang pasti tidak diketahui hanya 21.037 yang tercatat di koran Borneo Shinbun.
 
Jepang memang telah menyusun rencana genosida untuk memberangus semangat perlawanan rakyat Kalbar kala itu. Borneo Shinbun, koran yang terbit pada masa itu mengungkap rencana tentara negeri samurai itu untuk membungkam kelompok pembangkang kebijakan politik perang Jepang. Tanggal 28 Juni diyakini sebagai hari pengeksekusian ribuan tokoh-tokoh penting masyarakat pada masa itu.
 
Daku ingin mengajarkan kepada anak anak bahwa perang itu sangat jepang, dan supaya mereka belajar dari sejarah, bahwa perang sangat menyengsarakan banyak orang dan bukan untuk membalas dendam.
 
Babe daku sendiri telah melupakan trauma perang itu dan senang menyanyikan lagu jepang..he..he..he..kan jarang yang bisa, kalo salah kan nggak ada yang tau..ha..ha..ha..

Pada pesta ultah mertua, babe berduet karoke lagu Jepang dengan Tagashira, orang jepang teman adek ipar daku yang mengangkatnya sebagai Abang.

Mereka betah ngobrol berjam jam ngarol ngidul dengan bahasa campur aduk..he.he..he.. (poto Tagashira pake dasi)
 
Semoga anak anak belajar dari kata kata bijak Tionghoa kuno berbunyi:


“Chian She Puk Wang, Hou She Che She“, yang berarti Kejadian yang lalu tidak dilupakan, adalah guru dimasa yang akan datang..... (Pontianak, 7 Juli 2006 X.F. ASALI.)
 
Ini daku kutipkan dari beberapa blog spot dan koran berkenaan dengan Peristiwa Mandor ini...
 
 
Memori kelam kebiadan bala tentara Dai Nippon terhadap putra-putri terbaik Kalbar kembali diperingati, Kamis (28/6/07) kemarin.
Sejumlah pejabat daerah dan ahli waris istana dan dan anak cucu korban menghadiri upacara peringatan Hari Berkabung Daerah (HBD) di Makam Juang Mandor.
Upacara berlangsung khidmat dan penuh penghayatan di bawah sengatan matahari.

Dari nama-nama yang dibacakan terdapat tokoh dari berbagai etnis dan profesi. Ada sosok Sultan, Pengajar, Pedagang, Dokter bahkan wartawan.
Usai pembacaan doa dalam upacara kemarin Gubernur memimpin peletakan karangan bunga di monumen makam dan diikuti pejabat serta ahli waris istana lainnya.
Usai melakukan peletakan karangan bunga, gubernur beserta rombongan melakukan tabur bunga ke sepuluh kuburan massal yang ada di Komplek Makam Juang Mandor.

Sebagaimana dilansir oleh media pada masa transisi penjajahan, Jepang memang telah menyusun rencana genosida untuk memberangus semangat perlawanan rakyat Kalbar kala itu.
Borneo Shinbun, koran yang terbit pada masa itu mengungkap rencana tentara negeri samurai itu untuk membungkam kelompok pembangkang kebijakan politik perang Jepang.
 
Tanggal 28 Juni diyakini sebagai hari pengeksekusian ribuan tokoh-tokoh penting masyarakat pada masa itu.
Kalbar kehilangan satu generasi terbaiknya, 21.037 nyawa menjadi tumbal keganasan dan kebiadaban tentara fasis negeri Matahari Terbit.
Pada tanggal ini pula peresmian Makam Juang Mandor oleh Gubernur Kalbar, Kadarusno pada tahun 1977 dilakukan.
Tak terkira kerugian yang dialami oleh bangsa Indonesia di bawah pendudukan Jepang.
 
Moril maupun materil bangsa Indonesia, khususnya Kalbar dirampas oleh tentara-tentara Jepang yang dikenal bengis dan biadab itu.
Meski hanya 3 tahun Jepang bercokol di Indonesia namun keberingasan mereka mampu menyengsarakan kehidupan rakyat Indonesia yang berulang kali berpindah tangan dijajah para imperialis.


Memori kelam atas kebiadaban dan kebangsatan Jepang ternyata juga menyisa pada salah satu pelaku sejarah tersebut. Kasilan seorang legiun veteran, anggota Heiho yang juga seorang Zibakutai (tentara berani mati) pada masanya sempat menuturkan tragedi kemanusiaan biadab di Abad 21 itu.

 “Suasana sepi waktu itu. orang kerjapun tak berani keluar. Sebab kalo keluar takut diangkut,” kenang kakek yang rambutnya sudah uban semua ini.
 “Jepang pakai truk DPO, Departement van Orlo, sisa perang dunia ke-2 untuk mengangkut ke sini,” ujarnya merujuk kendaraan yang digunakan untuk mengangkut para korban ke killing field di Mandor.

Menurut kisah Kasilan tentara Jepang sangat licik dan biadab terhadap rakyat. “Jepang membohongi warga dengan bikin isu Amerika mau menyerang. Mereka minta semua emas, intan berlian yang ada diserahkan untuk dibikin peluru menembak pesawat Amerika,” ujar pejuang yang hingga hari ini masih gigih menuntut ganti rugi atas haknya sebagai ex-Heiho kepada pemerintah Jepang.

Dalam peristiwa pembantaian di Mandor Jepang sangat licik dan jahat. Menurut Kasilan, untuk membuat liang-liang kubur para korban Jepang mengerahkan warga dari Sungai Durian untuk menggalinya. Mereka tidak diberi tahu untuk apa lubang tersebut digali. Setelah lubang-lubang itu menganga lebar para warga penggali liang itu menjadi penghuni pertama kuburan yang mereka gali sebelum disesaki oleh korban-korban berikutnya yang sudah dijemput masing-masing.

Tragedi Mandor memang teramat pilu untuk dikenang. Mengingat kebiadaban para tentara “penyembah matahari” terhadap para martir yang meregang nyawa demi Nusa dan Bangsa ini hati kita pasti tersayat. Mestinya generasi emas yang ada di Kalbar pada masanya itu dapat mewariskan sikap dan teladan patriot bagi generasi saat ini.

Seperti tertulis di Monumen Makam Juang. Sudah seharusnya memang Peristiwa Mandor tak hanya dikenang, tapi bagaimana semangat melawan segala bentuk penjajahan harus terus dikobarkan. Termasuk keterbelakangan dan kebodohan yang masih menghinggapi akal sebagian besar warga Kalbar ini.
 
Duta Besar (Dubes) Jepang untuk Indonesia, Takao Kawakami pada tanggal 28 Juni 1996 menyempatkan diri berkunjung ke Mandor bersama Wakil dari JICA, Wakil Gubernur Kalbar Muchalli Taufik dan Bupati Pontianak Henri Usman. Diantara peziarah tidak ada yang tahu ternyata di tengah-tentah mereka ada wakil dari Kerajaan Jepang.

Dengan demikian untuk pertama kalinya Wakil Pemerintah Kerajaan Jepang mengunjungi Mandor.
Menurut Sarluhut saat itu memang kehadiran sang Dubes tidak diberitahukan kepada peziarah, mungkin menjaga keselamatan dan keamanan sang Dubes yang menjadi tanggung jawab Pemda Kalbar.
YM Takao Kawakami secara terbuka sudah menyatakan permohonan maafnya kepada Pemerintah Indonesia dalam hal ini Pemda Kalbar.
 
Setelah Jepang berkuasa, Indonesia mengalami masa yang sangat pahit. Dengan dalih sebagai saudara Tua, Jepang menjajah negara ini lebih dari 3 tahun.
Walau tak selama Belanda menancapkan kuku di tanah air, kebiadaban yang di lakukan Jepang melebihi dari sebuah rasa sakit.

Di Kalbar tercatat 21.037 orang dibunuh dengan sadis dari rencana target 50.000. Para kaum cerdik pandai Kalbar dibantai untuk kemudian men-Jepang-kan generasi muda, sebagaimana doktrin Jenderal Hideko Toyo. Diharapkan generasi berikutnya akan tunduk dan patuh di bawah bendera matahari terbit dengan kekuasaan Kaisar.




© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.